Asep Sambodja
http://oase.kompas.com/
Dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI DKK (1995), Taufiq Ismail menulis, “Enam bulan menjelang Gestapu, Mawie sudah berkata ‘kunanti bumi memerah darah’. Tepat, karena dia sudah tahu sebelumnya” (lihat halaman 219).
Apa yang salah dari kalimat Taufiq Ismail itu? Pernyataan itu merupakan interpretasi terhadap puisi Mawie Ananta Jonie yang berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah yang dimuat di harian Bintang Timur pada 21 Maret 1965. Merujuk pada jalan pikiran kalimat itu, enam bulan kemudian terjadi peristiwa G30S. Dan, Taufiq mengatakan, “Dia sudah tahu sebelumnya.”
Sastra Pesantren
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Minggu, 27 Mei 2012
Kamis, 24 Mei 2012
Kabar Duka dari Sorga Pustaka
Bandung Mawardi
Suara Merdeka, 24 April 2oo9
Museum Radya Pustaka di Solo mengalami petaka dan nestapa. Koleksi buku-buku kuno raib tanpa ada jejak untuk bisa ditemukan dan menaruhnya kembali di rak-rak dalam museum. Berita tentang kehilangan ini memang mengejutkan tapi juga ikut memberi kesan kecut ketika mengingat kasus-kasus kontroversial yang pernah terjadi di Museum Radya Pustaka. Pertanyaan dan curiga tentu membuat kasus ini jadi dilema yang mengundang keprihatinan dan kekhawatiran.
Suara Merdeka, 24 April 2oo9
Museum Radya Pustaka di Solo mengalami petaka dan nestapa. Koleksi buku-buku kuno raib tanpa ada jejak untuk bisa ditemukan dan menaruhnya kembali di rak-rak dalam museum. Berita tentang kehilangan ini memang mengejutkan tapi juga ikut memberi kesan kecut ketika mengingat kasus-kasus kontroversial yang pernah terjadi di Museum Radya Pustaka. Pertanyaan dan curiga tentu membuat kasus ini jadi dilema yang mengundang keprihatinan dan kekhawatiran.
Selasa, 22 Mei 2012
YAHUDI SEBAGAI SIMBOL DALAM WACANA ISLAM MASA KINI
Martin van Bruinessen
http://www.let.uu.nl/
Kaset Qur’an dan konspirasi Yahudi
Pada tahun 1986 seorang ulama di Bima mengeluh kepada peneliti dari LIPI tentang keberadaan kaset rekaman bacaan Al Qur’an yang dijual di mana-mana. “Sekarang semakin banyak orang puas dengan menyetel kaset saja, mereka tidak berminat lagi untuk belajar qira’ah Al Qur’an sendiri.” Berbagai teknologi baru, menurut hematnya, sangat membahayakan agama Islam. Ia mencurigai gejala ini berkaitan dengan konspirasi Yahudi-Zionis untuk menghancurkan Islam. Dalam ceramah-ceramahnya, ia sering menyinggung ancaman-ancaman Yahudi terhadap Islam.
http://www.let.uu.nl/
Kaset Qur’an dan konspirasi Yahudi
Pada tahun 1986 seorang ulama di Bima mengeluh kepada peneliti dari LIPI tentang keberadaan kaset rekaman bacaan Al Qur’an yang dijual di mana-mana. “Sekarang semakin banyak orang puas dengan menyetel kaset saja, mereka tidak berminat lagi untuk belajar qira’ah Al Qur’an sendiri.” Berbagai teknologi baru, menurut hematnya, sangat membahayakan agama Islam. Ia mencurigai gejala ini berkaitan dengan konspirasi Yahudi-Zionis untuk menghancurkan Islam. Dalam ceramah-ceramahnya, ia sering menyinggung ancaman-ancaman Yahudi terhadap Islam.
Minggu, 20 Mei 2012
“Bacalah!” dan Kita Lupa
Ahmad Tohari
Pikiran Rakyat, 24 Jan 2009.
LEBIH setengah abad yang lalu ada buku ajar untuk pelajaran bahasa Indonesia berjudul Gemar Membaca. Sesuai dengan judulnya, isi buku itu tentu diajarkan untuk meletakkan dasar sifat gemar membaca di kalangan anak-anak. Buku tersebut juga memberi tuntunan dasar-dasar ketrampilan menulis karangan.
Pikiran Rakyat, 24 Jan 2009.
LEBIH setengah abad yang lalu ada buku ajar untuk pelajaran bahasa Indonesia berjudul Gemar Membaca. Sesuai dengan judulnya, isi buku itu tentu diajarkan untuk meletakkan dasar sifat gemar membaca di kalangan anak-anak. Buku tersebut juga memberi tuntunan dasar-dasar ketrampilan menulis karangan.
Kearifan Syafii Maarif
Maria Hartiningsih, Ninuk Mardiana Pambudy
Kompas, 5 Oktober 2008
Ini pernyataan Prof Dr Ahmad Syafii Maarif: bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan karena politik menjadi ajang kompetisi kepentingan-kepentingan sempit kelompok, bukan untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat, seperti dicita-citakan para pendiri negeri ini.
Kompas, 5 Oktober 2008
Ini pernyataan Prof Dr Ahmad Syafii Maarif: bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan karena politik menjadi ajang kompetisi kepentingan-kepentingan sempit kelompok, bukan untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat, seperti dicita-citakan para pendiri negeri ini.
Langganan:
Entri (Atom)